Sabtu, 07 April 2012

[5] Membuat Judul Resensi Yang Memikat

Tulisan resensi buku itu --pada hakekatnya-- tidak beda jauh dengan bentuk tulisan yang ada di koran pada umumnya. Memang, ada beberapa hal yang beda dan menjadi ciri khas atau unsur penting dari tulisan resensi buku. Tetapi, pada sisi lain, ada pula beberapa hal yang sama. Salah satu dari “kesamaan” itu adalah keberadaan “judul”. Sebab, sebuah tulisan resensi buku tetap mensyaratkan keberadaan “judul”.

Lalu, yang jadi pertanyaan adalah; bagaimana cara membuat judul yang bagus? Apakah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul tulisan resensi buku? Apakah sebuah judul tulisan resensi buku itu memiliki pengaruh yang kuat sehingga dapat memengaruhi redaktur tergerak untuk memuat tulisan resensi dengan alasan bahwa judul yang dibuat itu bagus dan memikat?

Memang, membuat judul resensi buku itu bisa dikatakan gampang-gampang susah. Bagi peresensi yang sudah berpengalaman, membuat judul bisa jadi gampang. Tapi tidak demikian dengan peresensi pemula. Bagi seorang peresensi pemula, bisa jadi membuat “judul” (resensi) bisa-bisa membutuhkan perenungan, bahkan sampai menyita waktu cukup lama karena tak terlintas inspirasi untuk sebuah judul yang pas dan cocok.

Celakanya lagi, tak jarang peresensi pemula sudah menemukan “judul” tetapi sayangnya judul itu dirasa masih kurang kuat atau memikat sehingga memunculkan perasaan ragu-ragu. Akhirnya, ia hanya berkutat mencari dan berusaha menemukan judul sampai-sampai tidak segera memulai menulis resensi. Jika hal ini yang terjadi, sungguh celaka. Sebab, waktu habis hanya untuk menemukan judul semata.

Saya tidak ingin peresensi pemula mengalami nasib seperti itu. Karena itulah, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana membuat “judul” yang kuat dan memikat. Bahkan, jika peresensi pemula sudah merasa menemukan “judul” tetapi kurang kuat, jangan hiraukan. Sebab, pada tahap editing judul itu nanti bisa diganti. Jadi buat saja judul apa adanya dulu yang sekiranya itu mewakili pikiran utama atau sudut pandang Anda dalam menimbang sebuah buku yang Anda resensi. Sebab, meresensi buku itu --pada intinya-- adalah penilaian atau pendapat peresensi tentang sebuah buku.

Tapi, ada beberapa hal yang tidak bisa dikesampingkan dalam membuat judul resensi buku. Sebab, dalam membuat “judul” ada syarat yang harus dipatuhi –apalagi  jika tulisan resensi itu untuk dikirim ke koran atau majalah. Selain itu, judul sebuah pun –tak dapat dinafikan— memiliki kekuatan yang bisa menjadi penentu seorang redaktur bisa terpikat dan kemudian mau membaca lebih jauh.

Lalu apa syarat yang harus dipenuhi dalam membuat judul sehingga redaktur bisa tergerak untuk membaca lebih lanjut. Pertama, dalam membuat judul usahakan yang simpel dan pendek. Artinya, jangan terlalu panjang. Bahkan dalam sebuah buku tentang teori menulis (maaf saya lupa di buku apa dulu saya pernah membaca), saya pernah menemukan teori bahwa “membuat judul itu jangan sampai lebih dari lima kata”.

Kenapa? Sebab resensi yang dibuat itu diperuntukkan untuk dikirim ke koran atau majalah dan “space” (ruang) yang tersedia di halaman koran itu terbatas. Jadi, mau tidak mau, judul tulisan resensi pun harus disesuaikan dengan space yang ada di koran. Alasan lain, judul tulisan -termasuk judul tulisan resensi buku- itu tidak lebih sebagai wajah dari sebuah tulisan. Karena itu, judul harus dibuat dengan porsi yang pas dan tidak terlalu berlebihan atau terlalu panjang.

Tak salah, jika sepanjang karier saya sebagai peresensi buku, saya tak pernah membuat judul yang panjang. Saya selalu membuat judul tidak lebih dari lima kata. Saya memang pernah menjumpai seorang cerpenis yang cukup diakui mencoba-coba membuat terobosan dengan membuat judul yang justru panjang. Di balik itu, tak ada maksud lain kecuali dia ingin membuat redaktur melihatnya lain dan kemudian mau membaca cerpen yang dia kirim. Hanya itu, tujuanya tak lebih hanya menjerat sang redaktur mau membaca tulisan cerpen yang ia kirim. Tapi, soal dimuat atau tidak itu urusan lain –asal redaktur telah terjerat dan mau membaca cerpen yang dia kirim.

Tapi bagaimana dengan judul untuk tulisan resensi buku? Apakah bisa dibuat yang panjang (lebih dari lima kata) dengan tujuan agar redaktur “tertarik” membaca tulisan resensi yang Anda kirim? Bertahun-tahun saya jadi peresensi, belum pernah saya menjumpai judul tulisan resensi yang panjang. Saya memang pernah beberapa kali menjumpai judul cerpen yang panjang (bahkan sampai sepuluh kata). Tapi, soal judul cerpen memang lain dan tak bisa disamakan dengan judul resensi. Sebab untuk tulisan cerpen memiliki ruang kebebasan yang lebih longgar dan kadang menabrak pakem bahasa, apalagi untuk kategori puisi.

Sementara itu, untuk resensi buku, tidak ada ruang kebebasan yang lebih, dan biasanya mengikuti pakem atau “aturan” yang ada. Jadi, jangan sekali-kali mencoba untuk berbuat nyeleneh dengan membuat judul yang panjang (sampai sepuluh kata) sekadar untuk menarik perhatian redaktur. Justru, ulah Anda itu bisa-bisa dianggap iseng dan kurang serius.

Kedua, buatlah judul resensi dengan bahasa yang “tidak kaku”, tidak populer bahasa gaul, tetapi ilmiah populer. Sebab, resensi buku yang dibuat diperuntukkan untuk koran atau majalah, maka mau tidak mau harus mengikuti bahasa koran atau majalah karena bahasa koran dan majalah itu tidak kaku, tetapi ilmiah populer. Tapi, jika resensi yang dibuat itu untuk majalah remaja, bisa saja membuat judul yang gaul dan pop. Juga, jika resensi itu diperuntukkan untuk jurnal, bisa dibuat judul dengan bahasa yang ilmiah.

Ketiga, dalam membuat judul pilihlah diksi --pilihan bahasa-- yang memiliki sentuhan sastra. Sebab, dengan membuat judul yang memiliki sentuhan sastra, Anda akan memiliki nilai lebih dan judul dengan diksi sentuhan sastra bisa mengesankan kuat dan memikat. Dan judul dengan sentuhan sastra inilah yang memiliki kekuatan lebih untuk memikat redaktur mau tergerak membaca lebih jauh tulisan resensi yang Anda kirim.

Kenapa? Sebab judul yang dibuat dengan sentuhan sastra atau “pilihan diksi” yang tepat memiliki kekuatan dan “sengatan” yang kuat di benak. Judul dengan diksi yang tepat dan kuat inilah yang kerap kali saya pilih dan saya gunakan dalam hampir resensi-resensi yang saya tulis.

Sebagai contoh, di sini saya sebutkan beberapa judul dari resensi buku yang pernah saya buat, antara lain “Hasrat Membunuh untuk Sebuah Aroma” (judul untuk resensi buku Perfume; The Story of a Murderer, dimuat di Kompas, Minggu 18 Juni 2006), “Sosok Galileo dalam Lipatan Surat” (judul untuk resensi buku Sang Putri Galileo: Kisah Sejati tentang Pergulatan Agama, Sains, dan Cinta dimuat di Kompas Minggu 1 Agustus 2004), “Sisi Gelap ‘Sang Maverick’ McCain” (judul untuk resensi buku The Real McCain, dimuat di Media Indonesia, Sabtu 6 September 2008).

 Untuk bisa menghasilkan judul-judul yang kuat dan memikat, memang tidak jarang dibutuhkan perenungan dan latihan. Jadi, tidak usah risau dan khawatir kalau memang untuk sementara ini belum mampu membuat judul yang kuat dan memikat. Tapi, lama kelamaan akan terbangun satu kebiasaan setelah menempuh latihan dan menjadi peresensi yang handal. Judul kadang terlintas secara tiba-tiba, tak ubahnya mendapatkan sebuah ilham.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar