Sabtu, 24 Maret 2012

[3] Menunjang Resensi dengan Riset

Lalu, apa langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah seorang peresensi membaca buku hingga tamat bahkan sudah menemukan pokok pikiran sebuah buku yang hendak diresensi? Apakah setelah itu langsung “menulis” resensi buku? Tentu,  tidak ada yang melarang Anda jika memang sudah merasa siap melakukan “eksekusi” atau tepatnya memulai menulis resensi.

Tetapi, saran saya sebaiknya hasrat untuk segera menulis resensi itu ditunda dulu. Meskipun sebenarnya bisa langsung memulai menulis (resensi), tapi akan jauh lebih baik jika Anda melakukan riset. Apalagi kalau tema buku yang hendak diresensi itu tergolong berat. Maka, melakukan riset bisa dikata “setengah wajib” atau bahkan bisa digolongkan wajib.

Kenapa harus melakukan pekerjaan tambahan riset segala? Bukankah hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja? Apalagi, dalam “meresensi buku” di koran atau majalah itu dibutuhkan waktu yang cepat dan harus buru-buru lantaran dibatasi deadline. Pada sisi lain, juga agar tidak keduluan dengan peresensi lain. Tentu benar. Bahkan, tuntutan bekerja dengan cepat dan buru-buru itu harus diingat.

Tetapi kalau sesuatu pekerjaan –termasuk menulis resensi-- harus dikerjakan dengan buru-buru, dan tanpa didukung dengan “riset mendalam” sebagai tambahan bahan, tidak menutup kemungkinan hasil dari resensi itu bisa kurang mendalam dan kurang menggigit. Tulisan bisa jadi kering, datar dan biasa-biasa saja. Padahal, kalau tulisan resensi seperti itu yang dihasilkan, peresensi bisa rugi. Sebab, tulisan resensi yang sudah dibuat dengan susah payah bahkan sudah menulis sampai “larut malam” ujungnya tidak dimuat.

Dapat dipastikan, setiap peresensi tidak mau mengalami nasib buruk seperti itu. Sebab hal itu menandakan bahwa peresensi itu tidak bekerja  dengan baik apalagi mendekati sempurna. Karena itu, tuntutan melakukan riset benar-benar dibutuhkan bahkan bagi peresensi yang masih baru (pemula), hal itu sangat wajib.

Lalu, jenis riset seperti apa yang dibutuhkan itu? Setidaknya, ada dua (2) riset yang bisa dilakukan, yakni riset lewat internet dan riset dengan mencari buku-buku dengan tema yang sama (dengan buku yang hendak diresensi).

a) Riset Internet
Riset internet bisa dikata merupakan riset kecil-kecilan dengan tujuan untuk mencari bahan-bahan tentang tema yang diulas dalam buku yang hendak diresensi. Riset ini perlu ditempuh (tidak lain) untuk menambah data atau menambah referensi dari sudut pandang lain sebagai bahan pijakan. Data atau referensi tambahan ini bisa dari makalah, opini atau bahkan tulisan ringan dari orang lain yang ada di internet.

Sebab, tidak menutup kemungkinan buku yang hendak diresensi itu kurang data dan bahkan bisa jadi sajian yang dipaparkan penulis di dalam buku itu kurang mendalam. Wajar, jika peresensi harus mencari tambahan data atau referensi supaya peresensi itu memiliki tambahan wawasan dan pengatahuan. Dengan keluasan atau tambahan pengetahuan itu, peresensi nanti dalam menulis resensi --bisa dipastikan-- akan memiliki dua kelebihan.

Pertama, tulisan resensi yang dihasilkan akan tampak kaya dengan data dan referensi lain karena ditunjang dengan pengetahuan dari peresensi yang luas. Ini bisa menjadi bukti bahwa peresensi itu tidak sekadar berpijak dari buku yang diresensi, tapi masih menambah dengan pengetahuan dan rujukan lain. Alhasil, tulisan resensi yang dihasilkan itupun bisa jaduh lebih berwarna karena ditulis oleh presensi dengan kekayaan pengetahuan.

Kedua, dengan adanya tambahan data dan referensi yang dihasilkan dari riset kecil-kecilan lewat internet itu, peresensi bisa memiliki modal yang bisa digunakan untuk melihat kekurangan dan kelemahan buku yang diresensi. Jika menang dalam buku yang diresensi itu ada kekurangan data, misal, maka peresensi bisa menyajikan adanya kekurangan dan kelemahan buku itu.

Inilah nilai plus dari seorang peresensi yang mau melakukan riset tambahan lewat internet –apalagi jika peresensi pemula itu masih belum menguasai betul tema atau bidang yang dikupas dalam buku yang diresensi. Jadi, tambahan riset itu akan banyak membantuk dan menunjang dalam menulis resensi. Karena itulah, semakin banyak peresensi itu menemukan data-data tambahan dari hasil riset tersebut, justru hal itu akan lebih baik.

b) Riset Buku
Meski buku yang akan diresensi itu sudah tamat dibaca, dan peresensi sudah menemukan pokok pikiran di dalam buku tersebut, dan siap menulis menulis resensi buku dengan segera, bukan berarti kegiatan “mencari” dan bahkan “membaca” buku-buku lain yang memiliki tema yang sama dengan buku yang akan diresensi tidak lagi dibutuhkan. Dengan kata lain, justru membaca buku-buku lain yang bertema sama dengan buku yang akan diresensi itu sangat dibutuhkan. Pada point inilah, peresensi itu diharuskan melakukan riset untuk “mencari tahu lebih jauh” tentang buku-buku yang bertema sama.

Jika penulis buku itu kebetulan sebelumnya pernah menulis buku-buku yang “bertema sama” --dengan buku yang hendak diresensi--, hal ini jelas harus diketahui oleh peresensi. Sebab, buku sebelumnya yang ditulis oleh penulis yang sama itu akan bisa membantu peresensi, setidaknya untuk menyelami isi buku yang dihasilkan oleh penulis itu pada buku-buku yang lain. Apalagi, jika buku yang diresensi itu adalah buku lanjutan atau setidaknya masih memiliki hubungan dengan buku sebelumnya. Jadi, membaca buku-buku lain dari penulis buku yang hendak diresensi itu sangat diperlukan. Jadi, perlu membaca buku-buku lain yang dihasilkan penulis tersebut.

Selain membaca buku-buku lain yang dihasilkan oleh penulis buku yang akan diresensi, membaca buku-buku dari penulis lain yang kebetulan membahas bidang atau tema yang sama dengan buku yang hendak diresensi pun juga tak kalah penting. Bahkan, kemauan peresensi untuk membaca buku dari penulis lain yang kebetulan bertema sama akan sangat membantu.

Setidaknya, ada dua hal penting yang bisa menjadi nilai lebih ketika peresensi mau melakukan riset dengan mencari dan membaca buku-buku yang bertema sama –baik dari penulis buku yang hendak diresensi (jika kebetulan ada) maupun dari penulis lain.

Pertama, peresensi jadi “tahu lebih banyak” tentang buku-buku yang bertema sama dengan buku yang hendak diresensi. Kedua, dengan pengetahuan itu peresensi nanti bisa melakukan komparasi atau membandingkan antara buku-buku tersebut.

Setelah riset dan bahan-bahan yang dikumpulkan dirasa cukup, kini saatnya untuk melakukan eksekusi; memulai menulis resensi buku. Lalu bagaimana langkah-langkah dalam meresensi buku itu? Bahasan ini akan saya kupas dalam kesempatan yang lain.
      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar