Sabtu, 10 Maret 2012

Kekuatan Imajinasi

Esai ini dimuat di Radar Surabaya Minggu 21 Agustus 11

DULU, tatkala dorongan menulis itu menjeratku, aku langsung menyalakan komputer dan menuangkan ide yang melintas tersebut -begitu saja. Tak peduli malam. Tak peduli siang. Aku menulis, seakan aku dirasuki kekuatan gaib -yang menuntun tanganku untuk bergerak. Aku seperti sebuah robot yang dikendalikan kekuatan gaib yang tak pernah kukenal. Aku menulis lantaran aku didorong oleh keinginan untuk menulis.


Tapi ironisnya, sering kali aku tak bisa merampungkan tulisanku itu daripada sukses merakit cerita sampai tuntas. Jujur kuakui! Meskipun dorongan menulis itu kerap datang menggebu-gebu, lantaran tak ada konsep dan tak ada bayangan yang jelas tentang apa yang harus kutulis, akhirnya kekuatan gaib yang "mendorongku" itu pun hanya membuatku kecewa setelah aku berjuang sekuat tenaga mencurahkan kekuatanku, tetapi tak menghasilkan sebuah cerita -seperti yang terlintas dalam kepalaku.

Tak sedikit, tulisanku tak rampung. Mungkin, hanya satu atau dua yang dapat kurampungkan. Selebihnya? Kadang teronggok di komputer bahkan kerap tak kusentuh lagi. Terlupakan, tidak pernah menjadi sebuah cerita pendek. Tragis! Tetapi, itulah pengalaman buruk yang dulu sering aku alami!

Untung jika suatu hari aku tiba-tiba ingat kembali dan mendapat ilham baru untuk cerita yang pernah terbengkalai itu. Aku lalu menyentuhnya lagi dan mampu merampungkannya, meski harus tertatih-tatih dan kedodoran!

Tapi aku tak pernah tahu, dan tak pernah peduli. Aku hanya merasakan, saat ada dorongan lagi menulis untuk merampungkan tulisanku yang terbengkali, rasanya ada semacam "kebahagiaan" yang membuatku digelayuti kedamaian setelah bisa menuntaskan ide itu jadi sebuah cerpen. Rasanya habis buang hajat dan kegelisahan yang sempat membuatku terus dicekam rasa cemas itu pun akhirnya bebas dan hilang.

Plooooong! Itulah satu perasaan senang, tatkala aku bisa merampungkan sebuah tulisan!

Teknik Imaging
Bertahun-tahun petaka itu terjadi dan berlalu tanpa pernah ada solusi dan jawaban! Aku tak pernah tahu, jawaban kebuntuanku itu. Hingga suatu hari, aku membaca sebuah buku yang mengisahkan kesuksesan Jack Niclaus bermain golf yang dibantu teknik imaging. Pendeknya, Niclaus sukses karena ia mengandalkan kekuatan imajinasi (atau kekuatan pikiran).

Ceritanya, setiap kali Jack Niclaus ingin menganyunkan tongkat, dalam benaknya, ia menggambarkan (membayangkan) jalannya bola. Lalu datang proyeksi kedua, yakni cara dia memukul tongkat agar mampu menghasilkan jalan bola yang ia inginkan. Tak pelak, setelah dia mengayunkan tongkatnya, bola pun masuk ke lubang sebagaimana yang ia inginkan!

Itulah teknik imaging a la Niclaus yang membuatnya sukses di lapangan golf! Meski teknik itu terkesan sepele dan gampang dilakukan lantaran tinggal membayangkan jalannya bola, dan cara memukul tongkat tapi hasil yang diraih ternyata sungguh gemilang. Kekuatan imajinasi itu ternyata dapat berubah menjadi kenyataan setelah dibayangkan dalam pikiran dengan kuat!

Setelah aku renungkan, ternyata teknik imaging ala Jack Niclaus dalam bermain golf itu tidak beda jauh dengan teknik dalam menulis cerpen. Maka aku kemudian berusaha mempraktekkan teknik ala Jack Niclaus itu. Tak kupungkiri, ternyata teknik imaging itu cukup ampuh. Gamblangnya, setiapkali ide sebuah cerita itu melintas dalam benakku dan kemudian aku menyalakan komputer, aku membayangkan jalannya cerita itu seperti jalannya sebuah bola. Selanjutnya, ketika aku hendak nulis muncul bayangan kedua, gerakan tanganku menekan huruf-huruf di keyboad supaya jalannya cerita itu bisa bergulir sampai berakhir pada ending cerita!

Teknik imaging itu akhirnya membuatku tidak lagi menemui jalan buntu. Apalagi dalam teknik menulis cerita pendek, dikenal satu adagium "Saat menulis sebuah cerita pendek, kuncinya Anda harus tahu ending cerita. Jika sudah tahu ending cerita, maka tak ada kesulitan karena semua akan bergulir..."

Maka saat ending cerita itu sudah aku temukan, tak ada lagi kesulitan menulis. Ibarat jalannya sebuah bola yang terbayangkan hingga ke lobang, maka aku tinggal menulis mengikuti alur yang bergulir ke ending cerita sebagaimana yang aku inginkan. Apakah ending itu akan menunju akhir yang mengejutkan? Itu perlu dibangun dengan sering latihan dan uji coba!

Kekuatan "teknik imaging" yang diterapkan Jack Niclaus dalam bermain golf itu ternyata sejalan dengan himbauan Mary T. Browne dalam memanfaatkan kekuatan pikiran untuk meraih segala hal yang ingin diraih seseorang. Dari 5 aturan pikiran yang disusun Mary, salah satunya adalah "melihat hal itu telah terjadi". Dengan kata lain, membayangkan bola itu terjadi masuk ke lubang dan membayangkan cerita yang ditulis selesai sampai ending cerita.

Di balik Kekuatan Imajinasi
Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, cerita pendek lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang Anda inginkan bisa menjadi kenyataan.

Lalu, bagaimana menggunakan kekuatan imajinasi dalam menulis cerpen?

Imajinasi adalah ruh. Imajinasi adalah energi. Imajinasi adalah daya kreatif. Imajinasi adalah energi. Imajinasi itu adalah sebuah getaran. Pendek kata, imajinasi adalah embrio sebuah cerita pendek. Jadi kerja cerpenis tanpa ditopang kekuatan imajinasi ibarat pengembara yang berjalan tanpa peta.

Padahal yang dikehendaki oleh seorang cerpenis adalah berjalan menuju akhir cerita. Kekuatan imajinasi itu, tak lain adalah peta yang menuntut Anda berjalan ke garis finish (ending cerita).***

(Ciputat, 22 Maret 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar